ALAT BUKTI DALAM HUKUM ACARA PERDATA

Alat bukti adalah segala sesuatu yang oleh undang-undang ditetapkan dapat dipakai membuktikan sesuatu. Alat bukti (bewijsmiddel) bermacam – macam bentuk dan jenisnya. Dengan adanya alat bukti maka dapat dengan terang dan jelas setiap dalil- dalil yang diajukan. Alat bukti disini adalah alat bukti dalam hukum acara perdata.

Berdasarkan Pasal 164 HIR dan 284 Rbg serta Pasal 1886 KUHPerdata ada lima alat bukti dalam perkara perdata di Indonesia, Yaitu:

1. Alat Bukti Surat

2. Alat Bukti Saksi

3. Alat Bukti Persangkaaan

4. Alat Bukti Pengakuan

5. Alat Bukti Sumpah

Macam-Macam Alat Bukti.

1. Alat Bukti Surat

Dalam peradilan perkara perdata, Alat bukti surat merupakan alat bukti yang penting dan paling utama. Alat bukti surat melungkupi surat otentik dan surat dibawah tangan (tidak otentik). Surat otentik meliputi surat- surat Notaris (akta notaris), dan atau surat- surat yang dikeluarkan oleh pejabat- pejabat yang berwenang mengeluarkan surat tersebut. Surat dibawah tangan adalah surat- surat biasa.

2. Alat Bukti Saksi

Saksi adalah seseorang yang melihat, mengalami atau mendengar sendiri kejadian (atau peristiwa hukum) yang diperkarakan. Dalam peradilan perdata dikenal istilah Unus testis nullus testis (Pasal 1905 KUHPer, Pasal 169 HIR), seorang saksi saja tanpa alat bukti lain tidak dapat dipercaya, sehingga minimal saksi yang diajukan minimal 2 orang saksi.

Adapun saksi yang tidak dapat diajukan/ didengar keterangannya di persidangan adalah:

1. Keluarga sedarah dan keluarga semenda dari salah atu pihak menurut garis lurus.

2. Suami atau isteri salah satu pihak, meskipun telahbercerai.

3. Anak- anak yang belum cakap hukum

4. Orang gila, walaupun kadang- kadang ingatannya terang.

3. Alat Bukti Persangkaan

Pasal 1915 KUHPerdata menyebutkan “Dugaan adalah kesimpulan yang diambil oleh ketentuan undang – undang atau oleh hakim tentang sesuatu kejadian yang dikenal, dengan mana dapat diketahui adanya sesuatu kejadian yang tidak dikenal”. Selanjutnya didalam pasal 1916 KUHPerdata dikatakan “Dugaan menurut undang – undang adalah dugaan yang karena kekuatan sesuatu ketentuan yang khusus didalam undang – undang, berhubungan dengan perbuatan – perbuatan tertentu atau dengan peristiwa – peristiwa tertentu”.

4. Alat Bukti Pengakuan

Pengakuan adalah pernyataan atau keterangan yang dikemukakan salah satu pihak kepada pihak lain dalam proses pemeriksaan suatu perkara. Dengan adanya pengakuan dari salah satu pihak maka tidak diperlukan lagi suatu pembuktian. (Pasal 1923 KUHPerdata, Pasal 174 HIR)

5. Alat Bukti Sumpah

Pengertian Sumpah seperti apa yang tercantum dalam Pasal 1929 adalah suatu pernyataan hikmat yang dikemukakan secara sungguh-sungguh dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan keyakinan yang memberikan sumpah.

Di dalam Hukum Acara Perdata dikenal ada 2 macam sumpah, yaitu:

  1. Sumpah Penambah (Subsisoir) yaitu sumpah yang dilakukan jika terdapat alat bukti lain akan tetapi bukti tersebut masih sangat minim atau belum memenuhi syarat sebagaimana yang telah ditentukan oleh Undang-undang. Contohnya sumpah yang dilakukan terhadap alat bukti surat yang tidak memenuhi syarat sebagai alat bukti, sehingga sumpah disini berperan untuk melegalisasi alat bukti tersebut.
  2. Sumpah Pemutus (Decesoir) yaitu sumpah yang dilakukan karena tidak alat bukti yang lain sama sekali.

 

HAKIKI&CHRISTIANO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *